
Mungkin aneh ya, anak semuda ini, kok udah mikirin nikah? Padahal baru kelas 12 aliyah. Nyari penghasilan buat biaya hidup aja belum bisa, udah mau mikirin ngurusin anak orang. Jujur, aku sendiri bingung. Kok bisa ya aku mikirin nikah terus? Padahal pacaran aja belum pernah, jarang kontak-kontakan ama lawan jenis. Kok bisa ya ku terus mikirin, siapa ya isteriku nanti? Orang mana ya? Jawa atau luar jawa? Lulusan mana? Atau apa dari Husnul Khotimah juga? Waah, pertanyaan yang sebenarnya mengganggu pikiranku. Memang sih, lintasan pikiran seperti ini sebenarnya dibentuk oleh lingkungan sekitarku. Karena lingkunganku adalah lingkungan pesantren, dan kebanyakan ustadz-ustadz nya -apalagi ustadz yang dari LIPIA- menikah di usia muda dan pada waktu kuliah, maka kadang-kadang kamipun di jejali pemikiran nikah muda. Menurutku, nggak masalah sih. Nikah muda malah lebih bisa mencegah zina. Tapi masalahnya, klo masih seumuranku, mikirnya kawiiiiiiiiiin melulu. Kan bisa jadi masalah.
Ada yang menarik dari pembahasan pelajaran bahasa arab pekan-pekan ini. Ketika membahas suatu paragraf -aku lupa judulnya- yang menceritakan tentang perjalanan seorang bangsawan arab meminang seorang perempuan dengan tradisi arab sebelum datangnya Islam. Yang disitu diceritakan bagaimana kecerdasan seorang perempuan membujuk suaminya agar mau mendamaikan kabilah-kabilah yang sedang berperang. Dan disini, Ust. Khoirul Fuddin menjelaskan tentang pernikahan. Bagaimana seharusnya seorang istri. Apa dan bagaimana tugas seorang suami. Yang pasti semua tentang pernikahan dikuak di bab ini. Tapi kata Ustadz yang juga lulusan LIPIA itu,” Ustadz nggak berani ngomong kaya gini klo ngajar di kelas akhwat. Akhwat kan perasaan nya sensitif.”
Ada cerita menarik. Pada zaman jaman nabi, ada seorang wanita muslimah bernama ummu sulaim. Suatu ketika anaknya meninggal dan suaminya sedang berjihad. Ketika suaminya baru datang dari medan jihad, dia tak langsung memberitahu tentang kematian anaknya. Namun ia melayani suaminya terlebih dahulu. Sampai suaminya pun telah hilang rasa lelahnya. Lalu dia menjelaskan terlebih dahulu, bagaimana jika kita dititipi sesuatu lalu yang memilikinya mengambil haknya. Lalu barulah sang istri memberitahu suaminya bahwa sang anak telah meninggal. Maka kata Ust. Khoirul, “ beginilah seharusnya seorang istri. Meredam amarah suaminya. Bukan malah menghasutnya”.
Gara-gara itu, akupun jadi sering mikirin nikah. Apalagi kalau udah jatuh cinta ama seorang akhwat. Wah, menderita siang malam. Soalnya kaya jadi penyakit. Dipikirin terus, indah sih, tapi nyakitin. Soalnya, klo jatuh cinta ya udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Apalagi kalau akhwat nya nggak kenal kita. Mau kenalan? Dilarang pondok. Terus, mau langsung nembak? Wah, mau dibotak? Mending klo Cuma dibotak. Klo dikeluarin. Makanya, dilema banget deh jatuh cinta di pondok. Soalnya kita Cuma bisa cinta dalam hati.
‘alaa kulli haal, memang itu sebenarnya baik untuk meng-counter segala pikiran yang bisa mendekati perbuatan yang melanggar syariat. Nah, makanya pikiran buat nikah tuh mengiang-ngiang terus di benak ini. Apalagi bayangin klo dapetnya bidadari dunia. Cantik, solehah, nasabnya baik, terus kaya lagi. Siapa sih yang nggak mau dapet akhwat kaya gitu? Tapi mikir juga. Apa kamu sudah sebegitu SEMPURNA nya sehingga mendambakan akhwat seperti itu? Lalu apa akhwat yang seperti itu juga mau denganmu dengan begitu banyak kekurangan pada dirimu? Ya, ternyata kita harus muhasabah terlebih dahulu sebelum bermimpi.
Ada pepatah arab berkata seperti ini, “Waraa’a rojulin ‘adziimin imroatin ‘adziimatin.” Di samping lelaki yang agung, terdapat perempuan yang agung pula. Dan akupun tak lagi terlalu berharap kepada yang cantiknya luar biasa. Karena, yaa sadar diri deh. Mending klo aku adalah orang yang gantengnya mirip nabi yusuf. Tapi aku yang kenyaaanya??? (Ya, walaupun ganteng itu relatif sih…). Tapi aku bukannya nggak ngarep, tapi nggak terlalu. Tolong bedakan ya. Takutnya ntar kalau ada akhwat cantik yang baca ini jadi putus asa lagi ^_^.
Bagaimana dengan yang solihah? Wah, ini sih jangan ditanya. Kata Rasul aja, “Fadzfar Bi dzaati Ad-din taribat yadak”. Mungkin banyak yang mensyaratkan agar pasangannya se kufu dengannya. Hafidz dengan hafidzah. Keluarga kiai dengan kiai. Ganteng harus dengan yang ganteng. Namun aku tak harus seperti itu. Maka mungkin Cuma ini yang wajib dipenuhi oleh calon isteriku. Ilmu agama nya mumpuni, daiyyah, punya ghiroh keislaman yang tinggi, setia, mampu menjadi ibu bagi anak-anakku dan mau menemaniku kemana saja. Walaupun aku dipenjara, tetap lah dia ada disisiku. Walaupun seluruh manusia diduniaku menghujatku, dia tetap mendukungku. Walaupun seluruh manusia di dunia ini membenci ku, dia tetap mencintaiku. Itu cukup bagiku Allahummaj’al azwajinaa wa Dzurriyatina qurrota a’yuun. Wa ja’alna minal muttaqiina imamaa. Amiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar