
Sebenarnya, bagiku cinta itu adalah nyawa hidupku. Ketika ku tak mempunyai cinta, maka seakan ku tak pernah hidup. Ya, cinta. Yang paling minimal adalah cinta dari orang tua dan orang-orang di sekitarku. Jika itu tak kudapatkan, serasa bumi ini tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk hidup. Ingin rasanya lenyap dari dunia ini. Karena diri ini tak diharapkan oleh orang lain.
Dan apakah diri ini membutuhkan cinta dari lawan jenis untuk hidup? Entahlah, yang pasti diri ini tak pernah merasakan lembutnya, indahnya, bahkan sentuhan cinta itu. Karena setiap ku mencoba untuk merasakan rasa cinta kepada lawan jenis, entah kenapa ada tembok yang siap menghadang. Dan perasaan itu yang kini berkecamuk dalam diriku. Dalam diri seseorang yang ingin mengetahui hakikat cinta yang sebenarnya.
Rasa itu muncul ketika ku melihat dirinya di berbagai kesempatan. Di acara ifthar jama’I, acara orientasi siswa baru, dan berpapasan dengannya. Itulah yang kurasakan kini. Efek menyeramkan dari kejadian yang tak pernah kusengaja. Kini terjadi menghantui hidupku, menyakiti jiwaku, dan serasa mengancam akan menghancurkan masa depanku. Dia yang menurutku akhwat tercantik di angkatanku. Teristimewa di hatiku. Dan yang paling mengganggu pikiranku.
Kucoba mengalihkan perhatianku demi menggapai masa depanku. Namun, rasa itu terus menyiksa tanpa ampun. Dia, dia, dia, dan dia. Yang namanya kuukir di puncak ciremai bersama namaku dalam bingkai hati. Dia, yang ku tahu akan menjadi peneguh hatiku. Penyuci jiwaku. Dan pendamping hidupku. Oh, bidadari pagiku liat aku disini! Aku sangat mencintaimu.
Tak mungkin ku utarakan rasa ini. Karena aku sadar, aku ini siapa? Aku hanya anak kampong yang terdampar di gudang ilmu. Tampat peraduan pencari ilmu dari seluruh tanah air. Aku ini siapa? Aku bukan orang saleh yang selalu qiyamullail setiap malam tanpa alfa. Akupun jarang hadir di masjid lebih awal agar dapat shof pertama. Aku bukan seorang Al-hafidz yang hafal 30 juz alqur’an. Aku bukanlah orang cerdas dengan segudang prestasinya. Aku hanya…apalah aku ini? Seonggok daging yang bisa berjalan?
Tuhan, jika cinta ini menyakitiku. Jangan pernah anugerahi lagi rasa ini kepadaku. Aku tak sanggup. Bukankah engaku hanya memberi sesuatu hanya kepada yang bisa memikulnya?
Tuhan, dia adalah cintaku. Pujaan hatiku. Penyemangat hiduku. Peneguh dan penyuci hatiku. Jangan kau anugerahi kepadanya lelaki yang tak lebih soleh dari diriku. Anugerahi dia kebahagiaan dunia dan akhirat. Lindungi dia dimanapun dia berada. Sucikan hatinya dari setiap penyakit hati. Temani dia dalam mimpi-mimpi indahnya. Dan beri tahu ia bahwa aku sangat mencintainya. Oh, wanita yang teguh nan suci!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar