4.29.2010

Kalo Cewek Ngeblog…


Hari gini siapa yang kenal blog? Buat para netter sejati, blog pastinya udah jadi pemandangan yang nggak asing lagi, walaupun nggak semua sih kalo netters itu blogger juga. Nah, ternyata di antara para blogger itu banyak juga lho dari kalangan cewek. Kini, dengan berbagai ragam penampilan dan isi blog, mereka meramaikan dunia maya. Hmmm … kayak apa ya kalo para cewek ngeblog? Isinya kira-kira tentang apa aja ya? Intip aaaah…


Isi blog cewek

Diary. Blog macam gini banyak nampang di dunia virtual. Isinya tentang curhatan hati pemlik blognya. Kejadian-kejadian lucu, sedih, bahagia, ngebetein, bikin ill feel semua numplek di blog macam gini. Biasanya nih kejadian-kejadian yang beragam rasa itu ada hubungannya sama gebetan, temen-temen di sekolah atau kuliah or di tempat kerja, sohib-sohibnya, tempat belanja, fashion, penampilan, liburan, ortu, keluarga, dan seabrek cuhatan lainnya. Nggak lupa juga yang punya jiwa narsis bisa leluasa pasang foto-foto diri dengan gaya yang bebas ekspresi. He..he…

Nah, kalo yang punya blognya adalah cewek nih bahasa berkisahnya bisa dalem banget. Kadang suka agak-agak centil. Dan, kabar-kabarinya nih dengan gaya cewek kayak gitu traffic kunjungan ke blog bisa tinggi. Maka, nggak heran ada blogger cowok yang bikin blog dengan gaya cewek, dan pastinya namanya juga pake nama samaran yang cewek. Ckckck….

Kuliner. Blog tipe kayak gini emang nggak semuanya dibikin sama cewek, tapi sebagian besar emang iya. Di blog kayak gini biasanya pengunjung bisa dapetin banyak resep makanan, mulai dari masakan sayur, lauk-pauk, kue, minuman, en lain-lain. Ada yang resep lokal. Ada juga yang impor. Eh, ada juga lho blogger kuliner yang menyediakan info tempat jajan yang beragam level, dari yang pinggir jalan sampai yang restoran mahal. Dateng ke blog beginian bisa bikin laper! Jiahahah..

Hobi. Para bloggers tipe gini bisa jadi rujukan buat para netter yang hobinya sama. Nah, kalo cewek biasanya ngulik hobi yang terkait dengan beragam koleksi: koleksi perangko, parfum, novel, dan sebagainya. Ada juga isinya tentang hewan peliharaan. Segala pernik cerita terkait Si Peliharaan dimuat di blog. Atau tentang … hobi belanja! Cewek banget nggak sih? (backsound: Nggak gua tuh! Hehehe…). Sssttt … gara-gara hobi belanja terus kasih info tempat belanja, harga barang pasaran sampe yang branded bisa bikin seorang blogger jadi seorang konsultan. Bisa gratisan sampe yang dibayar. Menggiurkan? Kalo cuma mikir duitnya doang sih emang, tapi kalo mikir lebih jauh tentang orang-orang yang dibawa ke ajang konsumerisme akut en kronis sih mending nggak lha yaw!

Jualan. Nih blogger yang emang business-oriented banget. Cocok buat cewek yang pengen ngejalanin bisnis dari rumah. Sah-sah aja kok ngejadiin blog untuk sarana dagang. Asal yang dijual bukan yang diharamkan dan jualannya nggak pake curang. Bisnis kan taruhannya kepercayaan. Akad jual-beli juga mesti diperhatiin walaupun di alam maya. Sebagai muslimah, tentunya gimana Islam ngatur soal kayak gitu itu mestinya jadi sandaran.

Idola. Wah, kalo blog jenis ini sih bertebaran. Ada yang emang bikin blog khusus untuk didedikasikan buat Sang Idola atau yang integrated (ceileeeh bahasanya tuh!) sama blog diary. Mulai dari seleb lokal, interlokal sampai internasional bisa banyak dicari. Isinya dari mulai data pribadi, foto dengan berbagai pose, agenda kegiatan, sampai berita terkini Si Idola. Wuih! Rajin banget ya? Semoga semangat pengen tahu tentang Islam juga tetap membara dong ya.


Yang jadi problem

Sebenarnya sih nggak ada larangan buat cewek ngeblog. Tapi, yang mesti diperhatiin lebih adalah apakah isi blognya itu bermanfaat buat orang lain atau nggak, atau malah bikin yang lain nggak sadar bikin kesalahan juga. Eh, ada yang nimpalin tuh. “Blog gua selalu gua pastiin bisa kasih manfaat buat orang lain kok. Para pengunjung bisa dapetin segala hal tentang Si Seleb X.”

Nah, lho. Urusan idola dan mengidolakan–en kayaknya juga udah sering dibahas di gaulislam—ada aturan bakunya dalam Islam. Kita dilarang keras untuk “menuhankan” manusia. Mungkin ada yang yang protes kalo nggak sampe segitunya juga kok ngidolain Si Doi. Biasa-biasa aja kok. Tapi, yang namanya mengidolakan nggak ada yang biasa-biasa aja kalleee, Sis. Faktanya nih kalo udah mengidolakan sesorang kita seringkali lupa diri. Histeria di sana-sini. Atau yang paling ‘ringan’ nih, bisa melalaikan kita dari mempelajari sosok manusia yang seharusnya en wajib kita pelajari yaitu Rasulullah saw. Kalo udah gitu kan nggak bener banget deh.

Cerita soal pacar, mantan pacar, calon pacar, itu juga jadi persoalan lain di blog. Hubungan cinta mesra antara lawan jenis nggak semestinya diumbar di media publik. Blog gimanapun kan area umum. Plus, pacarannya itu sendiri kan udah jelas ada hukumnya. Dalam kamus muslimah nggak bakalan pernah ada kalo pacaran iu halal. Iya nggak sih?

Bikin blog soal shopping juga nggak jadi masalah selama itu nggak bikin kita jadi “penjerat” orang lain ke kubangan konsumerisme. Okelah para pengunjung blog kita itu orang berduit semua, en mampu untuk beli apapun yang mereka liat di blog kita. Tapi kan sayang banget kalo duit segitu banyak cuma untuk belanja doang. Jangan boros ya. Rugi banget lho.

Ada juga yang blogger cewek (paling nggak dari nama blog-nya keliatan blog cewek) isi blognya lebih naudzubillahi min dzalik. Error abis! Kisah hot alias porno bisa vulgar ditampilin di sini. Maksudnya apa seeeh? Udah bikin blognya dosa, bikin orang lain ikut dosa. Makin numpuk aja tuh dosa. Iiiih nggak banget deh ah!


Blog sehat buat para muslimah

Keberadaan blog nggak bisa dihindari di jaman millennium kayak sekarang. Fenomena blog udah merambah jadi bagian kehidupan. Tapi, bukan berarti kan buat kita-kita yang muslimah jadi ikutan latah bikin blog tanpa mikir tujuan dan untuk siapa aja blog itu entar kita buat.


Bro en Sis, kamu perlu tahu bahwa dalam Islam sebelum kita berbuat harus tahu status hukum perbutan yang akan kita lakukan. Sebagaimana dalam kaidah syara (yang artinya): “Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara”. Ini artinya, apa yang kita lakukan ada konsekuensi hukumnya. Maka, pastikan bahwa yang dilakukan itu benar menurut tuntunan syariat Islam. Ok?

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]: 7)

Nah, berdasarkan kaidah hukum syara dan dalil al-Quran di atas, maka bikin blog jadinya nggak bisa semaunya sendiri. Kita mesti pastiin kalo blog yang kita bikin adalah blog yang sehat alias blog yang aman untuk diakses orang banyak. Aman dalam batasan hukum syara’ pastinya.

So, kalo mau ditegesin lagi blog yang sehat itu punya syarat sebagai berikut:

Pertama, isi dan desain tidak bertentangan dengan syari’at. Untuk bisa mastiin isi sampe desain blog (jangan sampe ada gambar yang nggak sesuai dengan Islam) bener-bener sehat, nggak bertentangan dengan syari’at. Sebagai blogger, kamu kudu punya pengetahuan tentang Islam. Ya iya dong. Pengetahuan yang cukup tentang Islam bakal bisa bikin blogger punya panduan yang memadai untuk memilih mana yang boleh ditulis dan mana yang nggak boleh ditulis dan disebarkan.

Kedua, mencerahkan pengunjung blog. Blog yang sehat adalah blog yang bisa memberikan inspirasi kebaikan kepada para pengunjungnya. Misalnya nih: pengunjung yang sebelumnya nggak ngeh tentang wajibnya menutup aurat buat seorang muslimah jadi tergerak untuk segera menutup aurat setelah mampir ke blog kita, atau jadi cewek yang mau lebih peduli sama lingkungannya gara-gara baca postingan kita.

Itu dua syarat pokok kalo kita pengen punya blog yang sehat. Kalo pengen poin plus-plusnya juga, kita bisa dapetin dari desain blog yang dibikin sekeren mungkin. Untuk bisa seperti itu emang ada pengetahuan lain yang mesti kita punya, seperti pengetahuan kita tentang CSS (Cascading Style Sheet), flash, java script, HTML, XHTML, dan lain-lain. Tapi, kalaupun nggak jangan juga jadi berkecil hati. Sekarang blog gratisan pun menyediakan template lay out yang bagus-bagus kok.


Blogger muslimah kudu tangguh dan cerdas

Muslimah adalah elemen penting kebangkitan umat. Kalo kita ngomongin umat tentunya bukan cuma yang di Indonesia aja tapi juga yang di belahan dunia lainnya. Saat ini umat Islam dalam kondisi di titik nadir: dijajah secara fisik juga kekayaan alam. Lebih miris lagi tidak semua umat Islam menyadari keterpurukan tersebut. Itu karena cara pandang sebagian umat telah berhasil dialihkan secara halus oleh para penjajah. Umat Islam menjadi umat yang cinta dunia dan takut mati.

Nah, siapa lagi yang mau membangkitkan umat Islam kembali menjadi khoiru ummah (sebaik-baik umat) kalau bukan umat Islam yang telah sadar? Dan siapakah bagian dari umat Islam yang telah sadar itu? Salah satu bagiannya ya muslimah. Caranya? Berdakwah pastinya dong ya. Menunjukkan yang haq itu haq (benar itu benar), dan yang bathil itu bathil (salah itu salah). Dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh suri teladan kita semua, Rasulullah saw. yang membuat orang akhirnya menyadari sepenuhnya hakikat penciptaan dirinya sehingga muncul kerelaan untuk diatur hanya oleh aturan Allah Swt.

Sobat muda muslim, cara berdakwah bisa beragam. Salah satunya bisa melalui blog. Nah, blogger muslimah kudu punya persiapan yang mantap untuk bisa menghadirkan pencerahan di blognya. Apa aja ya?

Pertama, selalu update pengetahuan Islam. Blogger muslimah emang kudu ngaji. Selain emang udah jadi kewajiban, ini modal paling penting untuk jadi blogger yang cerdas. Nggak ngaji ya siap-siap aja jadi blogger yang bisanya cuma ngikut tren doang.

Kedua, selalu bertekad untuk berbagi ilmu, pemikiran, dan perasaan sesuai dengan Islam. Udah ngaji tapi cuma buat kebaikan sendiri sih nggak bisa masuk kualifikasi. Blogger muslimah kudu mau sharing ilmu ke semua orang. Baik ilmu Islam maupun ilmu pengetahuan, juga keahlian yang dimiliki, yang dinilai bisa membuat oang lain pun jadi berdaya.

Ketiga, selalu mengasah daya kritis terhadap suatu fakta sehingga bisa kasih solusi. Blogger muslimah kudu mau baca en mengamati fakta. Dia kudu jadi orang yang peduli sama sekitarnya. Untuk syarat yang ini, nggak bakal ada deh blogger muslimah yang nyaman menyendiri di kamarnya berhadapan dengan komputer atau laptop yang tersambung ke alam maya.

Keempat, selalu mau upgrade keahlian. Blogger muslimah juga kudu mau ningkatin level keahliannya. Blog kan macem-macem. Ada blog tulisan seperti blogspot, multiply, dan wordpress. Ada juga blog khusus foto seperti photobucket dan flicker. Blog khusus lainya adalah blog video seperti youtube. Nah, untuk bisa menghasilkan konten yang bagus, blogger khususnya muslimah emang harus mau terus belajar dan belajar sehingga bisa bertambah lihai menulis, mengambil angle foto yang mencengangkan, dan membuat tayangan yang menggugah kesadaran.


Yuk mulai ngeblog sehat!

Kalau buat para sobat muslimah yang belum punya blog en pengen punya blog, nah sekarang nih saatnya. Pertama, pastiin kalian semua udah baca syarat blog sehat kayak apa. Dan selanjutnya, silakan memilih situs blog gratisan yang kalian inginkan. Atau mau beli domain sendiri? Silakan. Banyak yang menawarkan harga domain dan biaya hosting yang murah. Mau yang gratisan atau bayar nggak jadi soal yang penting isi mesti berkualitas.

Kalau udah punya blog, ya jangan ditinggal dong. Pelihara dengan baik. Isi terus blog kamu dengan postingan yang berkala. Eh ya jangan lupa, tukeran link sama saudara-saudara muslim lainnya supaya makin banyak yang datang ke blog kamu. Atau bikin pengumuman aja lewat situs www.gaulislam.com. Emang bisa? Bisa dong. Caranya, sering-sering deh berkunjung ke situsnya buletin gaulislam ini, terus rajin kasih komen sambil tempelin deh tuh link blog kamu di situ. Sip kan! Saling berbagi nggak bakal bikin rugi. So, para blogger muslimah, umat menunggu kiprahmu. Jadilah muslimah yang cerdas, shalihah, rajin dakwah, dan punya keterampilan

Biar Miskin Asal Nyenengin


Arrrrrggggggh! Saya geram bukan kepalang tiap kali menyaksikan dengan mata-kepala sendiri potret memilukan di tiap sudut tempat yang saya lewati dengan ‘bebek’ saya. Pemandangan asli dari kondisi kehidupan mayoritas penduduk negeri ini yang jarang dijadikan setting cerita sinetron apa pun. Kontras banget dengan setting cerita di hampir semua sinetron atau film yang menyuguhkan kemewahan.

Coba telusuri tiap jalan di seantero kota kamu, Bro. Itu yang namanya gelandangan dan pengemis (gepeng) makin bejibun. Mereka duduk memelas menengadahkan tangan, mengelilingi mobil dan motor yang lagi antri lampu merah, bahkan berkeliling menyambangi tiap komplek perumahan, lengkap dengan ‘atribut’ compang-campingnya. Ngapain? Ya ngemis lah. Pernah ada guyonan, pas seorang ibu yang biasa ngemis di lampu merah tertangkap petugas tramtib, si ibu bilang: “ampun pak, saya memang ngemis di sini, tapi anak saya yang satu di UI, satu lagi di Trisakti.” “Kuliah?”, tanya petugas. “Bukan…., ngemis juga Pak!” Pletak! (nggak usah ketawa terus, karena ini guyonan yang bikin miris)

Buat mereka yang nggak punya rumah alias tunawisma, mereka kudu rela bergeletakkan tidur di emper-emper toko tiap malam. Diwarnai juga dengan kisah-kisah getir para tukang, yang menjajakan barang dagangannya dengan harap-harap cemas sampai terkantuk-kantuk, yang menunggu para konsumen menggunakan jasanya, baik tenaga maupun keahlian. Sebagian dari mereka adalah orang tua di atas kepala lima atau enam yang seharusnya sudah mengenyam masa istirahat di rumah dengan fasilitas lengkap yang disediakan anak-cucu mereka. Tapi keadaan memaksa mereka untuk terus survive dengan cara masing-masing.

Tiap menyaksikan itu semua dada saya serasa sesak, pun nafas terasa tercekat, menahan pilu. Sering ada yang bilang: Ini hidup, Bung! Memang begini adanya. Whats? Betul ini hidup, tapi kehidupan yang sudah mulai bergeser menjadi rimba belantara akibat keserakahan sebagian besar manusianya. Catet!

Bro en Sis, menyelami masalah kemiskinan itu ibarat dihadapkan pada tugas menguraikan benang kusut. Kudu hati-hati dan bijaksana. Masalahnya, ada yang miskin itu karena memang alamiah, ada juga yang karena pengen dikasihani. Buat kasus yang kedua emang nyata terjadi di sekitar kita. Cuma karena pengen dapet jatah raskin alias beras buat orang miskin sama minyak tanah bersubsidi, warga kampung berebut daftar jadi orang miskin. Di tiap jendela rumah mereka ditempelin stiker “Keluarga Miskin (Gakin)”.

Jadi serba salah kadang memandangnya. Di satu sisi kita ngerasa apa yang mereka lakukan nggak seharusnya begitu, sampai banting harga diri. Tapi di sisi satunya lagi, kita nyadar emang ini seharusnya hak mereka sebagai warga negara yang dijamin seluruh kebutuhannya oleh pemerintah. Cuma pemerintahnya aja yang nggak nyadar. Iya kan?

Susahnya jadi orang miskin

Pernah baca sebuah penelitian nih, jumlah orang miskin di negeri kaya SDA Indonesia itu mencapai setengah lebih dari total penduduknya yang berjumlah 220 juta jiwa. Cuma, lagi-lagi, realitas pada tataran praktis di lapangan, semua fasilitas kehidupan yang disediakan pemerintah kok banyak yang nggak berpihak kepada golongan ini ya. Coba aja dipikirin. Meski kebijakan mendiknas melalui pimpinan daerah masing-masing menegaskan untuk membebaskan seluruh biaya pendidikan di sekolah negeri (baru SD-SMP), tapi tetep aja masih banyak ditemukan praktik-praktik pemungutan biaya seputar LKS, renang, ekstrakurikuler, bla bla bla.

Kasian kan buat orang tua yang penghasilannya kecil atau pas-pasan. Baru aja bisa bernapas lega ngedenger biaya sekolah digratiskan, eh dibikin megap-megap lagi dengan urusan tetek-bengek yang disebutin tadi. Apalagi yang nyekolahin anaknya di sekolah swasta. Buat yang nggak tahan dengan tekanan seperti ini, mau nggak mau anaknya dipaksa putus sekolah dan akhirnya berkeliaran di jalan sambil menenteng okulele: “permisi pak numpang ngamen.”

Belum lagi buat yang sakit. Udah jadi rahasia umum kalo berkaitan sama biaya pengobatan di RS, nggak ada pembedaan buat pasien. Bisa dihitung dengan jari rumah sakit yang melayani sesuai kondisi pasien. Rata-rata sih nggak ada keringanan biaya buat yang miskin. Pokoknya tetep kudu bayar mahal. Meskipun udah ditunjukkin kartu askeskin ke bagian administrasinya.

Ada juga kondisi yang lebih parah. Pasien jenis ini biasanya dinomorduakan alias didaftar-tunggukan setelah selesai melayani pasien yang siap bayar mahal. Sampai akhirnya banyak yang keburu meninggal sebelum sempat mendapat pengobatan apalagi perawatan. Masya Allah! Begitulah susahnya hidup di negeri ini. Mungkin ini semua memang harus terjadi sebagaimana yang diamanatkan UUD’45 Pasal 34 yang bunyinya: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Hiks, hiks, jadi sedih, masa’ orang miskin disamain kayak ayam, dipelihara. (jangan-jangan dipelihari untuk tetap ada? Semoga bukan ya!)

Sementara nun di Senayan sana, para wakil dari rakyat miskin yang hidupnya nggak kayak rakyatnya, hidupnya wah bermandikan harta dan kesenangan. Gajinya, fasilitasnya, yang selama ini udah dinikmatin, masih kurang juga ternyata buat mereka. Sekarang mereka minta renovasi rumah dinas, ngabisin duit negara yang nyata-nyata punya rakyat sampai milyaran rupiah. Para menteri juga nggak mau ketinggalan, mereka dikasih mobil dinas yang mewah. Istighfar lagi, yuk! Astaghfirullah al-‘Azhim…

Kok bisa miskin?

Sobat muda, kamu mungkin bertanya, faktor apa aja seh yang bikin seseorang jadi miskin secara harta? Jawabannya (ngikutin Fitri Tropika di Missing Lyrics, hehe) ada beberapa sebab. Kalo kata saya seenggaknya ada tiga faktor. Pertama, faktor manusianya sendiri yang males-malesan; atau sering maksiat, jarang ibadah, nggak bersyukur, dan nggak rajin berdoa. Pantes aja rezekinya seret, kita sendiri yang bikin.

Selain itu, kemiskinan bisa diakibatkan oleh sistem kehidupan yang diterapkan bukan sistem Islam. Padahal Allah Swt. udah memperingatkan kita (yang artinya): “Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaahaa [20]: 124)

Jelas banget kan ayat ini. Kalo hidup kita jauh dari Allah Swr., pasti hidup kita susah. Apalagi lanjutan ayatnya, wuih serem. Makanya jangan berani-berani ngelanggar perintah Allah Swt. Kalo kemudian kamu temukan sosok manusia yang senantiasa maksiat, berbuat kejahatan—atau malah nggak beriman—tapi hidupnya bergelimang harta dan kemewahan, menurut para ulama itu cuma sebatas istidraj. Oya, istidraj adalah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.

Tentang istidraj ini dijelaskan dalam firmanNya (yang artinya): “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.” (QS al-An’aam [6]: 44)

Rasullulah saw. bersabda: “Apabila kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada hambaNya yang selalu berbuat maksiat, ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Swt.” (HR at-Tabrani, Ahmad dan al-Baihaqi)

Bro en Sis, faktor lainnya yang memunculkan kemiskinan adalah faktor bumi. Maksudnya kemiskinan yang dialami adalah akibat terjadinya fenomena alam di bumi. Bisa karena gempa, banjir, longsor, dan sebagainya, yang berpengaruh pada produksi alam dalam penyediaan makanan dan minuman bagi manusia. Sering kan kita dengar gagal panen padi di suatu daerah karena angin puting beliung yang menyebabkan warga di sekitarnya menderita kelaparan. Tapi kalo mau ditelusuri, semua bencana alam itu juga disebabkan sama tangan-tangan manusia yang nggak bertanggungjawab sehingga terjadilah kerusakan hingga menimbulkan kemiskinan. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum [30]: 41)

Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafwatu at-Tafasir, menafsirkan kalimat bimaa kasabat aydinnaas (disebabkan perbuatan tangan manusia) dalam ayat tersebut dengan bi sababi ma’ashi an-naas wa dzunubihim (disebabkan kemaksiatan dan dosa yang dilakukan oleh manusia). Maksudnya, tiap kali manusia melakukan maksiat dan dosa kepada Allah Swt., maka akan terjadi kerusakan di bumi. Salah satu kemaksiatan bahkan telah menjadi kemungkaran saat ini adalah nggak diterapkannya hukum-hukum Allah Swt., yakni syariat Islam. Itu sebabnya, kita butuh Khilafah yang bakal nerapin semua itu. Allahu Akbar!

Nah, faktor yang ketiga dari masalah kemiskinan ini adalah faktor kekuasaan Allah Swt. Kemiskinan seseorang memang bisa jadi sudah Allah tetapkan dalam waktu tertentu atau seumur hidupnya sebagai takdir. Kita nggak bisa menilai hal ini cuma dari logika manusia yang pasti nyimpulin kalo Allah nggak adil. Karena Allah Swt. berfirman (yang artinya): “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 216)

Pasti ada hikmah di balik kemiskinan yang Allah tetapkan itu. Orang yang beriman adalah orang yang menerima ujian dari Rabb-nya dengan penuh kesabaran. Dengan kesabaran yang diperbuatnya itulah kelak Allah akan menggantinya dengan surga. Tapi bukan berarti pasrah begitu aja dengan keadaan. Kudu tetep berusaha semaksimal mungkin, sembari dirangkai dengan aneka ibadah dan munajat kepada Allah Swt.

Renungan

Bro en Sis, kalau mau ditelusuri sejarah kehidupan Rasul saw. beserta para sahabat, ternyata kita bakal nemuin juga kesusahan hidup mereka. Diriwayatkan dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad, bahwa Rasul saw. ada kalanya beberapa malam bersama keluarganya kelaparan, nggak punya makanan buat disantap. Dalam kisah lain, beliau sering berpuasa atau mengganjal perutnya dengan batu kalo pas kebetulan nggak ada makanan di rumahnya. ‘Aisyah ra pernah bertutur bahwa: “Tidak pernah keluarga Muhammad saw. merasa kenyang makan roti tepung sya’ir dua hari berturut-turut, sampai masa beliau meninggal tiba.” (HR Bukhari dan Muslim)

Atau kisah yang diceritakan dalam hadis riwayat Bukhari bahwa Abu Hurairah ra sering pingsan di lokasi antara mimbar dan rumah ‘Aisyah sampai disangka gila. Padahal pingsannya itu hanya karena kelaparan. Kenapa Rasul kok seolah menerima keadaan itu? Kenapa nggak berdoa aja minta segala kebutuhan kepada Allah, bukankah doa Rasul mustajab? Semua ini beliau terima sebagai ujian yang harus dijalani dengan kesabaran.

Saat kita dilanda kekurangan materi alias finansial, inget juga firman Allah (yang artinya): “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 155)

Ada keutamaan untuk orang-orang miskin yang tetap sabar, beribadah, dan berikhtiar sampai akhir hayatnya. Dalam sebuah hadis Rasul saw. bersabda: “Hai orang-orang fakir, sukakah aku beritakan padamu kabar gembira? Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum mukmin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya kira-kira setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” (HR Ibn Majah)

Dalam hadis lain, ”Aku melihat ke surga, kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku melihat ke neraka, maka kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR Muslim)

Sobat muda, semoga kita semua meski dalam kondisi ekonomi yang carut-marut begini tetap istiqomah beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. semata. Karena pada dasarnya, walaupun secara materi (harta), misalnya, kita serba kekurangan, pada hakikatnya kita tetap kaya akan fisik yang sehat dan kuat; tetap kaya akan ilmu; tetap kaya akan iman; tetap kaya akan amal shalih, dan tentunya tetap kaya akan kemuliaan karena kita muslim.

Yang harus kita lakukan sekarang adalah tetap bersyukur kepada Allah Swt. Salah satu wujud syukur adalah beribadah secara totalitas. Jangan dilupakan juga buat senantiasa qana’ah (menerima pemberian dari Allah Swt.). Karena kata Rasul saw.: ”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizkinya cukup, serta merasa cukup dengan apa-apa pemberian Allah kepadanya.” (HR Muslim)

Jangan berhenti berusaha dan berdoa. Karena tugas manusia hanya berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan. Makna kebahagiaan yang sejati bukan sebanyak apa harta atau kekayaan kita. Tapi seluas apa hati kita dalam menerima setiap rizki dan mempergunakannya dalam ibadah. Lagi-lagi Rasulullah saw. mengingatkan, ”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda. Tapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR Muttafaq ’Alaih)

Semoga kita bisa semakin mensyukuri segala nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita. Allah Swt. Berfirman (yang artinya):“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raaf [7]: 96)

Yuk, tetap jaga diri dan jaga iman, biar miskin asal nyenengin Allah Swt. karena tetap beriman dan bersabar serta berusaha menjadi lebih baik disertai doa yang sungguh-sungguh. Wallahu a’lamu bi ash-